Minggu, 27 Januari 2019

Kumpulan Puisi Tentang Nelayan

Istilah nelayan merupakan Orang-orang yang Hari-harinya bekerja meringkus ikan Alias (biota) dan yang hidup di dasar laut, Maupun di permukaan perairan. Di peraiaran yang menjadi daerah tempatnya beraktifitas para nelayan. Di Neagra-negara berkembang semacam di asia tenggara dan juga afrika, Sekarang tetap banayak Nelayan-nelayan yang memakai peralatan yang sangat sederhana dalam meringkus ikan.

Kumpulan Puisi Tentang Nelayan


Nah.. bagi Nelayan-nelayan di Negara-negara maju juga tetap memakai peralatan modern dan juga memakai kapal yang besar dengan di lengkapi dengan Peralatan-peralatan canggih. Tidak memperpanjang Kata-kata lansung saja kami ke inti postingan ini yaitu Kumpulan Puisi Mengenai Nelayan.

Kumpulan Puisi Mengenai Nelayan Semacam berikut di bawah ini.

Nelayan Tidak Lagi Mengeluh

Bergulung ombak dengan keras
Memecah batu karang di batas
Biarkan buih mengalir lepas
Menuju laut lepas

Disini aku berdiri tegak
Tiada maksud untuk bergalak
Aku hanya ikut bersemarak
Riuh tawa nelayan kelak

Ikan Cumi-cumi kepiting dan udang
Rutin ikut turut mengundang
Di santap saat bersuka dan berdendang
Itulah hasil lautku yang segudang

Nelayan tidak lagi mengeluh
Walau kian susah melempar sauh
Tak terhitung mengalir peluh
BBM Tetap melambung jauh

Cintaku tidak sempat cukup
Menonton nelayan tanganya menangkup
Hanya angin yang tergantang
Lepas bersama kabut yang menantang

Allah pemilik kehidupan
Jangan kau hembuskan badai topan
Sebab mereka nyaris tidak makan
Dan tidak tahu kemana membangun harapan

Sang Nelayan Pencari Nafkah

Harapan putih pasir pantai
Menyengat tapak kaki tidak beralas
Nyiur lambaian kelapa menyapa
Sang pencari nafkah bergegas ke laut lepas

Di sambut ombak yang berkejar menerjang sampan
Kokoh tekat sang pencari nafkah
Tak peduli ombak dna karang menerjang
Demi ibadah  yang berkah

Wahai sahabatku sang nelayan pencar nafkah
Berguruku pada semangatmu
Berkacaku pada tekat ibadahmu
Sekecil apapun hasil
Engkau terima tampa mengeluh
Engkau nikmati dan mensyukuri

Banggaku menyebutmu seorang guru
Guru dalam kehidupan
Mengais nafkah yang berkah
Tampa butuh mengemis apa lagi berbuat bengis
Engkaulah yang mengerti pengertian berkat dan nafkah

Nelayan Tua

Angin laut berhembus lembut
Bersenandung merdu
Menandaskan kisah
Keluh kesah mencri nafkah
Yang berjuang tampa mengharap sedekah

Menerjang ombak menantang maut
Demi mendapat sekeranjang harta
Harta amis yang sangat berharga
Sebagai penyambung nyawa keluarga

Yang setia di peraduan
Senantiasa menantikan dan ber do'a
Untuk keselamatan dan kelencaran
Demi mereka engkau rela taruhkan nyawa

Mengharap semuanya
Senyum iklas membikinmu tersanjung
Sang nelayan tua penakluk lautan

Nelayan

Rakit melampai sopan
Di iringi perahu papan
Dengan nahkoda berpakaian hitam
Membela laut menuju harapan

Hujan dan panas menjadi kawan setia
Gelombang dan angin menjadi hiburan
Demi andalan yang setumpuk
Memperoleh ikan dan udang
Demi anak istri yang menanti

Wahai Nelayan...
Menjalankan kerja dengan iklas
Menolong para konglomerat mengisi perut
Yang tidak sempat brontak dan protes
Demi hidupb yang tidak kunjung membaik
Di dani hidup yang Berpas-pasan

Untuk Seorang Nelayan

Berlari dalam gelisah menerjang badai
Engkau tahu andalan belum sirna
Sempatkah kau menatap awan lagi
Tak kala debur ombak tetap meneriakkan asa

Engkau bertarung bersama tentara kecil dan besar
Basah kuyup tertepa laut asin
Menyatu dengan peluh dan rintih

Berdiri sendiri...
Di bawah layar terkembang
Wahai samudra kaulah tinta bagi hidupya
Ceritakanlah kembali Hari-harinya dalam sonata yang indah

Dalam simponi ombak yang meliuk kesana kemari
kau pentaskan suatu  panggung abadi
Terbukti Sungguh...
Aku tidak sabar menanti dan menantikannya
Tak lupa pula lengkungan senyumnya
Berlangsung sabar menyisir teluk senja
Saat matahari beristirahat sejenak dari pekerjaanya

Siapakah namamu yang sebetulnya
Bermain dengan dadu tuhan di neraka dunia
Di tempat yang dalam sedalam gubuk hades
Dan tempat yang gelap, Segelap hati yng tidak tenang

Sudah ku baca ceritamu
Sudah kulukis kisahmu
Samudrapun kehabisan tinta untuk merangkumkan hidupmu
Kini ku sadari....
Hidup tidak rutin semanis madu
Terkadang seasin ombak laut yang menerjang batu